
Lumajang, SMN – Pemandangan memilukan kembali terjadi di Lumajang. Di sebuah pangkalan LPG 3 kilogram kawasan Simpang Lima, Kelurahan Tompokersan, puluhan warga terlihat mengantre sejak subuh demi mendapatkan gas melon yang hingga kini masih langka.
Sejak pukul 05.30 WIB, antrean sudah mengular. Warga membawa tabung kosong, duduk di trotoar, menunggu kepastian pasokan yang tak kunjung datang.
Siti, salah satu warga, mengaku terpaksa datang pagi-pagi buta agar tidak kehabisan.
“Saya antre dari setengah enam pagi. Kalau datang agak siang, pasti sudah habis. Sudah beberapa hari seperti ini,” ujarnya dengan wajah Lelah, Selasa (14/4/2026).
Antrean Jadi “Pemandangan Rutin” Pasca Lebaran. Fenomena antrean panjang ini bukan terjadi sekali dua kali. Sejak usai Lebaran, kelangkaan LPG 3 kg di Lumajang justru semakin terasa.
Warga menyebut kondisi ini kini menjadi “tontonan harian” yang memprihatinkan.
“Setiap ada kabar gas datang, pasti langsung antre. Kadang belum tentu kebagian,” kata warga lainnya.
Tak sedikit yang akhirnya pulang dengan tangan kosong, meski sudah menunggu berjam-jam.
Dampak Meluas: Dapur Tak Ngebul, Usaha Tersendat. Kelangkaan ini berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Banyak warga kesulitan memasak, sementara pelaku usaha kecil mulai terganggu aktivitasnya.
“Kalau tidak dapat gas, ya tidak bisa masak. Mau pakai kayu juga tidak semua bisa,” keluh Siti.
Sejumlah pelaku UMKM bahkan mengaku terpaksa mengurangi produksi hingga menutup usaha sementara.
Pemerintah dan Pertamina Disorot. Di tengah kondisi ini, publik mulai mempertanyakan kinerja pemerintah daerah dan Pertamina dalam mengatasi krisis LPG.
Meski sebelumnya telah dilakukan sidak dan penindakan terhadap pangkalan nakal, kenyataannya antrean panjang masih terjadi.
“Kalau memang sudah ditindak, kenapa masih langka? Harusnya ada solusi nyata, bukan sekadar sidak,” ujar seorang warga lainnya, Wati.
Desakan Usut Tuntas Distribusi. Sejumlah pihak menilai, akar persoalan bukan sekadar pasokan, melainkan distribusi yang diduga tidak tepat sasaran.
Pengamat kebijakan publik lokal menyebut perlu ada investigasi menyeluruh.
“Kalau masyarakat masih antre panjang seperti ini, berarti ada yang tidak beres di jalur distribusi. Harus diusut sampai ke bawah,” tegasnya lagi.
Krisis Berlarut, Kepercayaan Mulai Luntur. Antrean panjang di Simpang Lima menjadi simbol nyata bahwa krisis LPG 3 kg belum terselesaikan.
Di satu sisi, pemerintah dan Pertamina mengklaim pasokan aman. Namun di sisi lain, warga masih harus bangun subuh hanya untuk mendapatkan satu tabung gas.
“Rakyat tidak butuh penjelasan, yang dibutuhkan itu gasnya ada,” ujar seorang warga, Iwan, dengan nada kesal.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya dapur warga yang terancam tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap sistem distribusi yang seharusnya melindungi mereka.(*)
Reporter: Atiek
Editor: Agus Imam S.
