
Lumajang, SMN — Suasana sore di Pendopo Arya Wiraraja Lumajang terasa sedikit berbeda. Ruang megah itu dipenuhi wajah-wajah serius sekaligus harap-harap cemas. Di hadapan mereka, Bupati Lumajang Indah Amperawati (Bunda Indah) berdiri tegap, menatap satu per satu jajaran aparatur yang siap dilantik ke posisi baru.
Hari Rabu (22/10/2025), bukan sekadar seremoni pelantikan. Bagi Bunda Indah, mutasi kali ini adalah sebuah uji coba, langkah awal untuk mengajak seluruh jajaran pemerintah berlari lebih cepat menuju pelayanan publik yang lebih baik dan pemerintahan yang lebih solid.
“Supaya saya bisa mengajak teman-teman berlari lebih cepat lagi. Ini mutasi pertama dan uji coba,” ujar Bunda Indah dengan nada tegas namun bersahabat.
Bagi sebagian orang, mutasi mungkin terasa menegangkan seperti membuka bab baru yang belum terbaca. Namun bagi Bunda Indah, mutasi justru menjadi sarana penyegaran dan pembelajaran, baik bagi pejabat yang berpindah jabatan maupun bagi organisasi yang ia pimpin.
“Mutasi itu wajar. Semua organisasi pasti ada dan harus ada. Ini bagian dari proses agar semua bisa berkembang,” katanya.
Pernyataan itu bukan hanya teori. Ia berbicara dari pengalaman pribadi. Dengan mata yang sedikit berkaca, Bunda Indah mengenang masa-masa awal kariernya pada tahun 2003. Saat itu, tanpa pemberitahuan, ia yang masih menjabat sebagai Kepala Bidang di Bappeda tiba-tiba menerima surat pelantikan.
“Saya kaget waktu itu. Tiba-tiba dilantik jadi Kepala Keuangan Pemda. Tapi saya diam saja, tidak bertanya. Karena bagi saya, itu tugas sebagai aparatur sipil negara,” tuturnya dengan senyum mengingat masa lalu.
Kenangan itu rupanya menjadi nilai yang ia tanamkan kepada seluruh ASN di bawah kepemimpinannya: bahwa mutasi bukan hukuman, melainkan amanah baru yang perlu dijalani dengan hati dan tanggung jawab.
Mutasi kali ini menempatkan beberapa pejabat kunci di posisi strategis. Ada dr. Halimi Maksum, MMRS yang kini menjabat Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat setelah sebelumnya menjadi Direktur RSUD dr. Haryoto. Kemudian Yuli Harisma Wati, berpindah dari Dinas Pariwisata ke Dinas Perikanan, posisinya digantikan oleh Patria Dwi Hastiadi, mantan Kepala BPBD Lumajang.
Pergantian juga terjadi di sejumlah dinas penting lain, termasuk Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), BPBD, hingga jajaran staf ahli bupati.
Selain pejabat eselon II, sejumlah ASN muda juga mendapat kepercayaan baru di antaranya Shela Fazri yang kini menjabat Camat Candipuro, serta beberapa kepala bidang di Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan.
Bunda Indah menyebut, semua keputusan ini diambil dengan penuh pertimbangan, terutama soal kompetensi, integritas, dan semangat kerja.
“Saya ingin jajaran birokrasi Lumajang tidak jalan di tempat. Kita harus lincah, punya semangat melayani, dan siap beradaptasi. Karena perubahan tidak bisa ditunda,” tegasnya.
Menggandeng Semua untuk Bergerak Bersama. Dalam gaya kepemimpinannya, Bunda Indah dikenal tegas namun penuh empati. Ia tidak segan memotivasi bawahannya dengan cerita pribadi dan semangat kebersamaan. Bagi Bunda Indah, pemerintahan bukan hanya soal jabatan, melainkan kerja kolektif yang berorientasi pada kemajuan daerah.
“Kita ini satu tim. Kalau satu berlari cepat, tapi yang lain tertinggal, ya tidak sampai tujuan. Karena itu saya ingin semuanya bisa berlari bersama,” ucapnya.
Langkah mutasi yang ia sebut sebagai “uji coba” ini seolah menjadi penanda dimulainya babak baru birokrasi Lumajang birokrasi yang dinamis, adaptif, dan berjiwa melayani.
Di akhir sambutan, Bunda Indah menutup dengan pesan yang sederhana tapi penuh makna.
“Jangan takut berubah. Karena dari perubahanlah, kita bisa tumbuh,” pungkasnya.
Bagi para pejabat yang hari itu resmi menduduki jabatan baru, kalimat itu bukan sekadar pesan, tapi kompas moral dalam mengarungi perjalanan pengabdian mereka ke depan. (*)
Reporter: Atiek
Editor: Agus Imam S.
