
Kota Blitar, SMN – Peta persaingan pemilihan Ketua Umum KONI Kota Blitar periode 2026–2030 mendadak berubah. Salah satu figur yang sebelumnya digadang-gadang menjadi kandidat kuat, Mohammad Trijanto, resmi menyatakan mundur dari bursa pencalonan Ketua Umum KONI Kota Blitar.
Keputusan tersebut cukup mengejutkan kalangan olahraga. Pasalnya, Trijanto sebelumnya disebut mendapat dukungan besar dari berbagai cabang olahraga (cabor) di Kota Blitar. Bahkan, dukungan yang awalnya datang dari tujuh cabor terus bertambah hingga mencapai 14 cabor setelah proses pengambilan formulir pencalonan dimulai.
Nama Mohammad Trijanto sendiri bukan sosok asing di dunia organisasi dan olahraga. Selain dikenal sebagai Direktur Revolutionary Law Firm, ia juga menjabat Ketua Umum Percasi Kota Blitar serta Ketua Umum Ormas Ratu Adil (Rakyat Tuntut Amanah Keadilan). Aktivitasnya yang luas di bidang hukum, sosial, kepemudaan, hingga olahraga membuat dirinya dinilai memiliki jaringan dan komunikasi yang kuat di berbagai elemen masyarakat.
Namun di tengah derasnya dukungan tersebut, Trijanto memilih mundur dan tidak melanjutkan langkah menuju kursi Ketua Umum KONI Kota Blitar. Keputusan itu disampaikan langsung kepada wartawan usai melakukan berbagai pertimbangan matang terkait padatnya agenda organisasi dan profesinya sebagai praktisi hukum.
“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh cabang olahraga yang sempat memberikan dukungan dan kepercayaan kepada saya. Dukungan itu menjadi kehormatan besar yang sangat saya hargai,” ujar Mohammad Trijanto.
Menurutnya, jabatan Ketua Umum KONI bukan sekadar posisi organisasi, melainkan amanah besar yang membutuhkan fokus penuh, energi, serta komitmen tinggi demi kemajuan olahraga daerah. Karena itu, ia memilih mengambil keputusan realistis agar tidak setengah-setengah dalam menjalankan tanggung jawab.
“Saya mohon maaf kepada seluruh teman-teman cabor dan semua pihak yang telah mendukung saya. Setelah dipertimbangkan secara matang, saat ini saya memiliki banyak agenda organisasi, pergerakan nasional, dan pekerjaan profesi hukum yang cukup padat. Saya merasa belum bisa memberikan fokus penuh apabila harus memimpin KONI Kota Blitar,” tegasnya.
Langkah mundur Trijanto pun memunculkan berbagai respons di kalangan pengurus cabang olahraga. Sejumlah pihak menghormati keputusan tersebut sebagai bentuk kedewasaan dan tanggung jawab dalam berorganisasi. Namun tidak sedikit pula yang menyayangkan mundurnya Trijanto karena dinilai memiliki kapasitas membangun komunikasi lintas organisasi serta membawa semangat baru bagi dunia olahraga Kota Blitar.
Meski batal maju dalam kontestasi Ketua Umum KONI, Trijanto memastikan dirinya tetap berkomitmen mendukung pembinaan olahraga di Kota Blitar. Ia menegaskan pengabdian terhadap olahraga tidak selalu harus melalui jabatan struktural.
“Jabatan itu sementara, tetapi pengabdian harus tetap berjalan. Saya tetap mendukung kemajuan olahraga Kota Blitar demi prestasi, persatuan, dan kebanggaan daerah,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Trijanto juga memberikan kebebasan penuh kepada seluruh cabor yang sebelumnya mendukung dirinya untuk menentukan pilihan masing-masing pada pemilihan Ketua Umum KONI mendatang. Ia menegaskan tidak akan mengarahkan dukungan kepada calon tertentu.
Ia berharap proses pemilihan Ketua Umum KONI Kota Blitar periode 2026–2030 dapat berlangsung demokratis, kondusif, dan tetap berpedoman pada AD/ART organisasi. Menurutnya, pemilihan tersebut menjadi momentum penting menentukan arah pembinaan atlet, peningkatan kualitas organisasi cabor, hingga prestasi olahraga Kota Blitar di tingkat regional maupun nasional.
“Saya berharap proses pemilihan berjalan penuh persaudaraan dan melahirkan pemimpin yang benar-benar mampu membawa kemajuan olahraga Kota Blitar,” pungkasnya.(*)
Reporter: Imam
Editor: Agus Imam S.
