
Madiun, SMN – Pemerintah Kabupaten Madiun melalui Dinas PPKB PPPA menggelar pelatihan peningkatan kapasitas bagi 112 kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Aula Dinas PPKB PPPA. Kegiatan ini bertujuan memperkuat ketahanan keluarga sekaligus menekan angka fatalitas bayi prematur di lapangan, Selasa (7/7/2026).
Pelatihan ini melibatkan 72 kader IMP dari 5 kecamatan (Jiwan, Madiun, Balerejo, Sawahan, Wungu), 25 anggota TPK dari 4 kecamatan, serta 15 Koordinator Penyuluh KB (PKB). Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut cepat atas Surat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI Nomor 114/PK.04.01/J/2026.
Bupati Madiun Hari Wuryanto hadir langsung sebagai narasumber menegaskan bahwa keluarga adalah fondasi utama pembangunan daerah. Dalam paparannya mengenai “Implementasi 8 Fungsi Keluarga”, Bupati menyoroti berbagai masalah sosial seperti stunting, kenakalan remaja, perceraian, hingga kemiskinan ekstrem yang berakar dari lemahnya ketahanan keluarga.
“Ketahanan keluarga adalah kunci masyarakat yang aman dan sejahtera. Saya meminta seluruh kader konsisten mengedukasi masyarakat tentang 8 Fungsi Keluarga, mulai dari fungsi keagamaan, perlindungan, hingga ekonomi,” ujar Hari Wuryanto.
Selain ketahanan keluarga secara umum, pelatihan ini memberikan perhatian khusus pada penanganan bayi prematur melalui modul “Kecil Tapi Kuat”.
Wakil Bupati Madiun, Purnomo Hadi, menjelaskan bahwa intervensi ini krusial mengingat Indonesia berada di peringkat ke-5 dunia dalam kasus kelahiran prematur, dengan prevalensi nasional mencapai 10% hingga 15%.
Para kader TPK dibekali kemampuan untuk mendampingi orang tua dalam memenuhi kebutuhan dasar bayi prematur, yaitu ASIH (psikososial), ASUH (fisik medis), dan ASAH (stimulasi).
Mereka dilatih untuk mengedukasi warga tentang Perawatan Metode Kanguru (PMK) sebagai pengganti inkubator alami di rumah, memantau usia koreksi, serta meluruskan mitos keliru seperti larangan memandikan bayi prematur atau penggunaan gurita yang terlalu ketat.
Di akhir acara, Purnomo Hadi menginstruksikan para kader untuk meningkatkan frekuensi kunjungan rumah khusus balita prematur, memantau berat badan bayi setiap minggu, dan memastikan kecukupan ASI.
“Kader harus hadir membangun rasa percaya diri orang tua, karena ibu dari bayi prematur rentan mengalami kecemasan. Jika ditemukan tanda bahaya, segera koordinasikan dengan Bidan Desa atau Puskesmas agar mendapat penanganan medis yang cepat dan tuntas,” pungkasnya.
Melalui sinergi ini, Pemkab Madiun optimistis dapat mencetak SDM berkualitas demi mewujudkan visi daerah yang Bersahaja (Bersih, Sehat, dan Sejahtera). (*)
Reporter: Suyanto
Editor: Agus Imam S.
