
Brebes, SMN – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Brebes memperketat langkah penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dengan mengerahkan serangkaian strategi, mulai dari imunisasi kejar hingga penguatan surveilans epidemiologi.
Upaya ini dilakukan untuk menekan penyebaran penyakit menular tersebut di tengah masyarakat.
Kepala Dinkesda Brebes, Heru Padmonobo, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh fasilitas layanan kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Penanganan dilakukan secara komprehensif, baik dari sisi pencegahan maupun respons kasus,” kata Heru Padmonobo, Rabu (8/4/2026).
Salah satu langkah utama adalah pelaksanaan imunisasi kejar (catch-up) bagi anak-anak dan masyarakat yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Program ini dinilai krusial untuk meningkatkan kekebalan kelompok atau herd immunity guna memutus rantai penularan.
Selain itu, Dinkesda juga menerapkan protokol penanganan kasus secara ketat. Pasien campak diwajibkan menjalani isolasi mandiri selama empat hari sebelum hingga empat hari setelah munculnya ruam.
Langkah ini diambil untuk meminimalkan risiko penularan di lingkungan sekitar.
Pemberian Vitamin A dosis tinggi turut dilakukan sesuai anjuran tenaga medis, terutama untuk mencegah komplikasi serius yang berpotensi terjadi pada pasien campak, khususnya anak-anak.
Di sisi lain, penguatan sistem surveilans menjadi perhatian utama. Dinkesda memastikan setiap laporan suspek campak ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi dalam waktu maksimal 24 jam.
Proses ini mencakup pelacakan kontak serta pengambilan dan pemeriksaan spesimen guna memastikan diagnosis.
Seluruh rumah sakit dan puskesmas di Brebes juga diminta memperketat skrining dan triase pasien, serta menjamin ketersediaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan.
Upaya edukasi kepada masyarakat turut digencarkan. Dinkesda menggandeng tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya imunisasi serta langkah pencegahan penularan campak.
Kampanye ini juga diperluas melalui platform digital, termasuk media sosial resmi dinas kesehatan dan puskesmas.
Sebelumnya, Puskesmas Bentar melakukan monitoring aktif terhadap pasien campak yang masih dalam masa inkubasi melalui kunjungan langsung. Pemantauan ini mencakup evaluasi gejala, edukasi keluarga, serta pengawasan isolasi mandiri.
Menurut Heru, kolaborasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci dalam pengendalian KLB campak.
“Kami mengimbau masyarakat untuk melengkapi imunisasi dan segera memeriksakan diri jika muncul gejala,” katanya.
Dinkesda berharap langkah terpadu ini dapat menekan penyebaran campak sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan penyakit menular. (*)
Reporter: Santi
Editor: Agus Imam S.
