
Pasuruan, SMN – Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Pasuruan sukses menggelar Apel Besar Peringatan Hari Pramuka ke-64 di Alun-alun Bangil, Selasa (26/8/2025).
Kesuksesan tersebut terlihat saat perwakilan Pramuka dari Bakorwil Barat menampilkan berbagai macam atraksi dan penampilan.
Dimulai dari semaphore dance dari Kecamatan Kraton, kemudian tari pagebluk dari Rembang, menyanyi solo dari Gempol, tari seblang dari Sukorejo dan tari remo dari Beji.
Tak selesai sampai di situ, masih ada penampilan-penampilan yang tak kalah memukaunya. Seperti Tari Ladoyo dari Kwartir Prigen, Garuda Kecil dari Bangil, Tari Jaripa dari Pandaan, Drumband SMA Taruna Madani, hingga flashmob tari tabola bole sebagai penampilan penutup dari seluruh pramuka yang hadir.
Dari seluruh penampil, Pada saat memimpin Apel Besar Peringatan Hari Pramuka ke-64, Kak Shobih demikian biasanya Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Pasuruan disapa memberikan apresiasi kepada Camat dan Kwartir Ranting (Kwarran) yang tersebar di beberapa wilayah. Piagam Penghargaan diberikan atas partisipasi dan kontribusi dalam memajukan gerakan kepanduan di Kabupaten Pasuruan.
Adapun Camat yang menerima diantaranya, Camat Bangil, Camat Beji, Camat Gempol, Camat Kraton, Camat Prigen, Camat Purwodadi, Camat Rembang, Camat Sukorejo dan Camat Purwosari. Penghargaan yang sama juga diberikan kepada Kwarran Bangil, Kwarran Beji, Kwarran Gempol, Kwarran Kraton, Kwarran Pandaan, Kwarran Prigen, Kwarran Purwodadi, Kwarran Purwosari, Kwarran Rejoso, Kwarran Rembang, Kwarran Sukorejo, Kwarran Tosari, Kwarran Tutur dan Kwarran Wonorejo. Berikut, menyematkan Tanda Penghargaan kepada Pelatih dan Pembina Gerakan Pramuka Kabupaten Pasuruan.
Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Pasuruan, Shobih Asrori mengungkapkan rasa bangganya bisa menjadi bagian dari Pramuka. Sebab pramuka zaman sekarang adalah pramuka yang siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
“Gerakan pramuka harus hadir sebagai solusi strategis untuk membentuk karakter generasi muda yang tangguh, berintegritas serta berwawasan kebangsaan,” katanya.
Di era seperti saat ini, Pramuka dihadapkan banyak tantangan. Mulai dari arus digitalisasi global yang semakin canggih, disrupsi TI hingga berbagai ancaman sosial seperti maraknya judi online, bullying, penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar, pornografi hingga masuknya budaya asing.
Oleh sebab itu, Gus Shobih – sapaan akrab Wakil Bupati Pasuruan ini mengibaratkan pramuka sekarang harus menjadi gelombang yang siap menghadapi berbagai jenis tantangan, hambatan maupun halangan yang ada di depan mata.
“Jangan sampai pramuka malah jadi gelembung. Kemana-mana ngikut saja, tapi begitu ada angin besar maka gelembung akan langsung pecah. Pramuka harus jadi gelombang yang siap menghadapi apapun,” tegasnya.
Dengan tema peringatan “Kolaborasi Untuk Membangun Ketahanan Bangsa”, Ia menyebutkan bahwa hal itu sebagai tekad dan komitmen bersama untuk terus memperkuat jati diri Pramuka. Siap menjadi garda terdepan dalam mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan senantiasa memegang teguh ideologi Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal.
Lebih lanjut, Kak Shobih menegaskan, seluruh kader Pramuka harus kuat, berintegritas dan berkarakter kebangsaan dengan nilai-nilai Dasa Darma yang tertanam di dalam diri masing-masing anggotanya. Bagaimana menjadi gelombang yang berpendidikan dan berintegritas. Jadi tidak mudah terbawa arus seperti yang diibaratkan layaknya gelembung.
“Kelak, kader Pramuka akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Karena itu, sesuai dengan tema peringatan, maka ketahanan bangsa harus kita bangun sejak dini. Mencakup ketahanan semuanya, termasuk ketahanan pangan yang digagas oleh Presiden RI,” tuturnya.
Sementara itu, Waka Bina Muda Gerakan Pramuka Kwarcab Pasuruan, Sugiarto menambahkan pramuka identik dengan kacu leher, salah satu identitas diri yang menggambarkan rasa kebangsaan yang dimiliki setiap pramuka.
Dari simbol sederhana inilah, ia meyakini pramuka sampai kapanpun akan tetap ada pada setiap generasi.
“Kacu leher/hasduk menggambarkan bendera. Jangan sampai terlepas dari generasi kita. Harus tetap terkalungkan supaya jiwa patriotisme tetap terpatri dalam jiwa,” harapnya. (*)
Reporter: Lalang S.
Editor: Agus Imam S.
