
Bandung, SMN – Sudah berminggu-minggu sejak harga plastik naik, pelaku usaha suvenir dan undangan mulai resah. Mereka mencari siasat membungkus suvenirnya dengan menggunakan kain tile jaring yang dinilai lebih murah, tetapi tetap estetik.
Seperti yang dilakukan Julian (39), pengusaha suvenir dan undangan di Jalan Cibadak, Kota Bandung, yang menggunakan tile sebagai alternatif pembungkus suvenir tas kecil hingga tumbler. Meski begitu, plastik tetap digunakan meski secara kuantitas lebih dikurangi.
“Ya diakali pakai tile jala, meski kain juga di sisi lain (harganya) ikut naik,” ucapnya.
Julian mengaku semua produk suvenir seperti pouch, tumbler, tas bahan mika, termasuk undangan, biasa dikemas dengan menggunakan plastik bening. Namun, kemasan plastik kini mengalami kenaikan harga hingga 50 persen.
“Kemarin harga misalkan biasanya Rp 11.000 satu pak, sekarang sudah sekitar Rp 14.000 lebih,” katanya.
Dalam usahanya, plastik merupakan salah satu bahan yang sangat dibutuhkan, termasuk pada pengemasan pouch dan undangan. Satu pelanggan saja ketika memesan item tersebut bisa mencapai 300-500 pak plastik.
Namun, di tengah kenaikan harga plastik ini, Julian mengaku cukup berat jika harus membeli plastik dalam kuantitas banyak. Saat ini, ia hanya bisa mengandalkan stok yang ada untuk dimaksimalkan.
“Terasa banget ketika ada kenaikan ini,” ujarnya.
Untuk menyiasatinya, Julian menggunakan tile jaring untuk membungkus item suvenir sebagai salah satu pengganti plastik.
Sementara item yang masih menggunakan plastik terpaksa disesuaikan dengan harga kenaikan.
“Paling kalau dari beberapa pouch, tumbler yang plastik sudah kita mulai naikin ya. Agak kaget juga sih lumayan, kalau kayak tumbler itu naiknya bisa Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per piece-nya,” katanya.
Sementara itu, pedagang plastik Kalipah Apo, Vivi (40), mengatakan kenaikan plastik cukup signifikan hingga mencapai 40-60 persen. Kenaikan ini terus terjadi imbas eskalasi perang Timur Tengah.
“Naiknya luar biasa ya. Soalnya dari awal Maret sampai sekarang kan mesti terus-terusan naik,” ujar Vivi.
Sejumlah varian plastik mengalami kenaikan beragam, mulai dari plastik kecil hingga yang besar.
Namun, hal ini tak terlalu berpengaruh signifikan terhadap omzetnya, pasalnya harga disesuaikan dengan harga kenaikan. Dari beberapa item, plastik jenis PE dinilai memiliki harga paling tinggi mencapai 100 persen. Plastik PE biasanya dibentuk seperti shopping bag yang memiliki gagang jinjing pada desainnya.
“Tergantung, kalau misalkan barangnya tadinya Rp 5.500 jadi Rp 8.000. Kalau yang barangnya tadinya dihitung sekilonya sekitar Rp 45.000 sampai Rp 50.000. Sekarang ada yang jadi Rp 70.000, Rp 80.000 gitu,” katanya.
Jenis ini sempat menjadi tren dan banyak diburu pengusaha fashion saat sepekan jelang Lebaran 2026 lalu.
Meski secara omzet, pada momen Lebaran cukup tinggi, Vivi tetap berharap harga plastik kembali normal sebab tak sedikit pelanggannya yang juga merupakan pedagang kecil.
“Mudah-mudahan kembali normal lagi saja ya karena kasihan juga kaya penjual gorengan, pedagang kopi kecil, pedagang bubur, pasti terdampak banget mereka ini. Kalau enggak beli gimana gitu, enggak beli mau bungkus pakai apa mereka,” harapnya. (*)
Reporter: Aldi
Editor: Agus Imam S.
