
Brebes, SMN – Hujan deras yang mengguyur Desa Igirklanceng, Kecamatan Sirampog, pada Jumat (23/1/2026) sore, memicu bencana longsor yang memutus akses jalan antar dukuh serta merusak rumah warga pada Sabtu (24/1/2026).
Peristiwa tersebut terjadi di Dukuh Igirklanceng dan berdampak langsung pada jalur poros kabupaten serta jalan desa penghubung Dukuh Igirmanis dengan Dukuh Igirklanceng.
Material longsoran menutup badan jalan sepanjang 60 meter dengan lebar enam meter dan tinggi tebing mencapai lima meter.
Kondisi ini membuat jalur vital tersebut tidak dapat dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.
Selain memutus akses transportasi, cuaca ekstrem yang disertai angin kencang juga menyebabkan satu rumah warga di Dukuh Igirklanceng mengalami kerusakan.
Rumah yang rusak milik Ratem (78), janda yang sehari-hari masih harus bekerja sebagai petani. Serta rumah milik Dakir (46) seorang buruh tani. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut.
Berdasarkan informasi di lapangan, hujan berintensitas tinggi mulai turun sejak pukul 08.30 WIB dan berlangsung hingga malam hari.
Kawasan Desa Igirklanceng sendiri berada di wilayah perbukitan lereng Gunung Slamet ini secara geologis memiliki tingkat kerawanan longsor cukup tinggi, terutama pada musim hujan.
Struktur tanah yang labil, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan jalan di tepi tebing menjadi faktor yang kerap memicu kejadian serupa.
Terputusnya akses jalan ini berdampak signifikan terhadap aktivitas warga. Jalur tersebut merupakan urat nadi penghubung antar dukuh yang digunakan untuk mobilitas harian, distribusi hasil pertanian, hingga akses menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Ketika jalur ini terputus, warga terpaksa memutar melalui jalan alternatif yang jaraknya lebih berisiko.
Camat Sirampog, Slamet Budi Raharjo, membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan telah menerima laporan dari Pemerintah Desa Igirklanceng.
Sebagai langkah awal, pemerintah desa bersama warga Dukuh Igirklanceng dan Dukuh Igirmanis melakukan penanganan darurat dengan kerja bakti membersihkan material longsor secara manual.
“Pemdes dan warga sudah bergotong royong membersihkan jalan yang tertimbun longsor sebagai penanganan sementara,” ujarnya, Senin (26/1/2026).
Namun, penanganan darurat dinilai belum cukup untuk mengatasi ancaman jangka panjang. Pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Brebes guna meminta dukungan teknis penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan pembangunan talud pengaman dan perkuatan lereng di titik rawan.
Warga berharap pemerintah daerah tidak hanya fokus pada pembersihan material longsor, tetapi juga melakukan langkah mitigasi yang lebih permanen.
Mengingat intensitas hujan masih tinggi dan potensi longsor susulan tetap mengancam, upaya penguatan infrastruktur serta pemetaan ulang titik-titik rawan dinilai mendesak agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana di wilayah perbukitan Brebes selatan, agar keselamatan warga dan kelancaran akses transportasi dapat terjaga, terutama di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi. (*)
Reporter: Supriyadi.
Editor: Agus Imam S.
