
Tanjung Redeb, SMN – Setelah sukses menembus pasar Amerika Serikat. Komoditas kakao asal kabupaten Berau semakin berkibar di panggung internasional. Terbukti kini giliran Prancis yang menjadi tujuan ekspor terbaru. Sebanyak 10 ton biji kakao fermentasi premium dilepas langsung oleh Bupati Berau, Sri Juniarsih, dalam seremoni di halaman Kantor Bupati, Selasa (3/3/2026).
Sri Juniarsih menyebut permintaan pasar internasional terhadap kakao Berau terus meningkat. Biji kakao daerah ini memiliki karakter rasa khas: pahit kuat berpadu sentuhan asam segar yang seimbang. Profil rasa tersebut banyak dicari produsen cokelat premium.
Salah satu industri yang menaruh perhatian ialah Valrhona, perusahaan cokelat ternama asal Prancis yang selalu menggunakan bahan baku kakao berkualitas tinggi.
Produk fermentasi kakao dari Kampung Merasa, Berau, telah dikembangkan sejak beberapa tahun lalu, menunjukkan komitmen panjang daerah ini terhadap kualitas. Pada tahun 2021, produk kakao ini berhasil lolos seleksi nasional untuk ajang bergengsi Cocoa of Excellence di Paris, Prancis, sebuah pengakuan awal atas kualitasnya.
Keberhasilan ini berlanjut dengan peluncuran Single Origin Coklat Kampung Merasa 74% pada tahun 2023. Di tahun yang sama, Berau juga mencatat ekspor kakao fermentasi ke Amerika Serikat, dan pada tahun ini kembali melakukan ekspor ke Prancis, menegaskan posisi kakao Berau di kancah internasional.
Pada tahun 2023, Kabupaten Berau berhasil mengekspor 15 ton kakao fermentasi ke Amerika Serikat, menunjukkan minat pasar yang signifikan terhadap produk ini. Selain pasar ekspor, biji kakao Berau juga diminati di pasar lokal hingga nasional, memperkuat fondasi ekonomi daerah.
Saat ini, biji kakao Berau menjadi “rebutan” antara pasar domestik dan internasional. Selain ekspor ke Prancis dan Amerika, pasokan lokal juga telah terserap oleh PT KASS, pengepul asal Samarinda, hingga mitra binaan Berau Coal.
Meski karpet merah ekspor telah terbentang luas, tantangan besar membayangi Dinas Perkebunan (Disbun) Berau. Permintaan dari luar negeri, seperti Italia yang meminta pasokan rutin 200 ton setiap dua bulan, hingga total kebutuhan global yang menembus 1.000 ton per tahun, belum sepenuhnya bisa disanggupi.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, Lita Handini, mengungkapkan bahwa produksi normal Berau berada di angka 600 hingga 700 ton per tahun. Namun, faktor alam menjadi musuh utama yang sulit diprediksi.
“Kendala kita adalah banjir yang terjadi berkali-kali. Tanaman kakao jika terendam 2-3 hari saja bisa menyebabkan gagal panen,” jelas Lita.
Kondisi ini sempat terjadi pada tahun 2024 lalu, di mana anomali cuaca mengakibatkan banyak kebun kakao terendam dan produktivitas menurun drastis. Akibatnya, Berau harus sangat berhati-hati dalam menerima kontrak jangka panjang dalam jumlah besar.
Untuk menjawab besarnya peluang pasar Eropa dan Amerika, Disbun Berau kini memprioritaskan perluasan lahan perkebunan. Lita menyebut ketersediaan lahan sebenarnya masih mencukupi, namun tantangan utamanya adalah memotivasi petani untuk membuka kebun kakao baru di tengah risiko bencana hidrometeorologi.
“Kami terus mendorong perluasan perkebunan. Dengan peningkatan produksi yang konsisten, kita harapkan Berau benar-benar siap memenuhi permintaan dunia yang terus berdatangan,” pungkas Lita. (*)
Reporter: Syahraini
Editor: Agus Imam S.
