
Kaltara, SMN – Lembaga Adat Besar Tidung menegaskan dukungan terhadap program unggulan daerah dalam momentum Festival Irau ke-11 sekaligus HUT ke-26 Kabupaten Malinau, Kamis (9/10/2025).
Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Adat Besar Tidung, Zainaludin, dalam sambutannya. Menurut Zainaludin, komitmen masyarakat Tidung diwujudkan dengan kesiapan mengawal jalannya pembangunan bersama pemerintah daerah.
“Kami siap mendukung lima program inovatif daerah serta mengawal setiap kebijakan pembangunan yang sedang berjalan,” tegasnya.
Selama lima tahun ke depan, Pemerintah Kabupaten Malinau berkomitmen menjalankan lima program unggulan, yakni Wajib Belajar Malinau Maju yang berfokus pada pendidikan gratis dan peningkatan kompetensi guru, kemudian Desa Sarjana Unggul yang memberikan beasiswa bagi pelajar perguruan tinggi.
Selain itu, ada program Milenial Mandiri yang diarahkan untuk memberdayakan generasi muda, Smart Government yang menekankan pelayanan publik berbasis teknologi, serta Pertanian Sehat (PESAT) yang bertujuan mewujudkan swasembada pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Menurut Jainaludin, Festival Irau bukan hanya menjadi ajang unjuk kekayaan budaya, tetapi juga ruang penting untuk mempererat tali persaudaraan antar-etnis di Malinau. Kehadiran masyarakat Tidung dalam festival ini adalah simbol keterlibatan aktif dalam membangun daerah yang inklusif dan harmonis.
Ia menambahkan bahwa komitmen Bupati Wempi dalam menjaga dan merawat budaya lokal sangat dirasakan langsung oleh masyarakat adat.
Ruang-ruang budaya yang selama ini terus dibuka dan difasilitasi oleh Pemda, menurutnya, adalah bentuk nyata keberpihakan terhadap identitas daerah.
“Kami berharap perhatian dan dukungan ini terus berlanjut dan bahkan ditingkatkan. Budaya adalah jati diri kita bersama, dan kami siap mendukung program-program pembangunan di bawah kepemimpinan bapak Bupati,” tegas Jainaludin.
Dalam rangka memperkuat hubungan, Lembaga Adat Besar Tidung juga menyerahkan Nasi Rasul kepada Bupati dan jajaran Forkopimda serta tokoh adat dan paguyuban lain sebagai simbol persaudaraan dan silaturahmi.
Atraksi budaya Tidung pagi itu, yang diwarnai dengan prosesi Beseruan dan Ngatode de Pulut, berhasil mencuri perhatian para pengunjung.
Pertunjukan itu menjadi simbol pelestarian tradisi sekaligus ruang untuk memperkenalkan nilai budaya kepada masyarakat luas. (*)
Reporter: Syahraini.
Editor: Agus Imam S.
