
Pasuruan, SMN – Indonesia dikenal sebagai negeri dengan keberagaman suku, agama, budaya, dan tradisi yang hidup berdampingan dalam harmoni. Nilai tersebut tercermin nyata di Kabupaten Pasuruan, tepatnya di Pondok Pesantren (Ponpes) Ngalah, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari.
Sejak didirikan pada tahun 1985 oleh KH. Moh. Sholeh Bahruddin Kalam dan kini diasuh oleh KH. M. Sholeh Bahruddin, Ponpes Ngalah konsisten menanamkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan. Pondok ini terbuka bagi siapa saja, baik Muslim maupun non-Muslim, untuk datang, berdialog, maupun bertukar wawasan.
Saat ditemui di kediamannya, Rabu (8/4/2025), KH. Sholeh Bahruddin menegaskan bahwa seluruh santri di pondoknya diajarkan untuk menghormati perbedaan sebagai bagian dari kekayaan bangsa.
“Wong kita iki podo menungsane (karena kita ini sama-sama manusia),” ujarnya singkat.
Menurutnya, berbagai kegiatan rutin digelar sebagai upaya menjaga dan merawat keberagaman di lingkungan pesantren. Di antaranya diskusi lintas budaya, seminar perdamaian, hingga perayaan hari besar yang melibatkan beragam tradisi santri.
“Kita jaga semua itu supaya guyub rukun,” imbuhnya.
Tradisi hidup berdampingan yang dijalankan Ponpes Ngalah menjadikannya simbol nyata harmoni di tengah keberagaman. KH. Sholeh menegaskan, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai tempat mencetak generasi yang mampu menjadi duta perdamaian di tengah masyarakat.
“Kita hidupkan nilai-nilai multikulturalisme di tengah dunia yang semakin majemuk. Jangan sampai terpecah belah apa pun yang terjadi,” tegasnya.
Seiring perkembangan waktu, Ponpes Ngalah tidak hanya menerima santri mukim, tetapi juga mengembangkan pendidikan formal, mulai dari kelompok bermain hingga perguruan tinggi. Selain itu, terdapat pendidikan khususiyah berupa thoriqoh yang menjadi ciri khas pondok, yakni Thoriqoh Naqsabandiyah wal Qodiriyah wal Mujadadiyah.
Meski memiliki nama besar dan berbagai keunggulan, KH. Sholeh tidak menuntut banyak dari para santri maupun alumni. Ia hanya berharap mereka menjadi pribadi yang berakhlakul karimah dan bermanfaat bagi sesama.
“Yang paling penting untuk generasi muda, ojok sampek molimo, larangan agama dan larangan negara. Etika dijaga. Sepintarnya model apa, tapi kalau etikanya jelek, tidak dihargai,” pesannya.
Dengan nilai-nilai tersebut, Ponpes Ngalah terus menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun persatuan yang kokoh. (*)
Reporter : Lalang S.
Editor: Agus Imam S.
