
Lumajang, SMN – Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan bahwa seluruh lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga menengah, diwajibkan melaksanakan Gerakan Sekolah Mengaji (GSM). Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk membiasakan nilai-nilai religius sejak dini kepada para peserta didik.
Kebijakan ini merujuk pada Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 2 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Program Merdeka Belajar pada Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Masyarakat. Dengan aturan ini, GSM diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan formal, sehingga menjadi bagian sistematis dari pembelajaran sehari-hari.
Muhyi, Kasi Kurikulum Dindikbud Lumajang menjelaskan bahwa seluruh sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di bawah naungan Dindikbud wajib melaksanakan program ini.
“Tujuan utama GSM adalah memperkuat pembinaan karakter dan religiusitas peserta didik. Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga menanamkan nilai moral dan spiritual yang akan menjadi bekal hidup mereka,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (1/10/2025).
Program GSM tidak berdiri sendiri, melainkan masuk sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal yang telah berjalan, seperti pelajaran bahasa Jawa. Setiap minggu, GSM mendapatkan alokasi waktu dua jam pelajaran sehingga penerapannya lebih terstruktur dan konsisten.
Muhyi menekankan pentingnya keseimbangan antara prestasi akademik dan pengembangan karakter. “Kami ingin pendidikan di Lumajang menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki jiwa religius dan moral yang kuat. Dengan begitu, anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat,” tuturnya.
Selain aspek pembelajaran, GSM juga menjadi sarana membangun kedekatan emosional antara guru dan siswa. Aktivitas mengaji bersama memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar disiplin, menghargai waktu, dan menumbuhkan rasa saling menghormati.
Dindikbud berharap, implementasi GSM di semua jenjang pendidikan akan menghasilkan dampak jangka panjang, yakni generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan berlandaskan nilai religius. Program ini juga diharapkan memperkuat pondasi moral masyarakat melalui pendidikan formal, sehingga membentuk komunitas yang harmonis dan peduli terhadap lingkungan sosialnya.
“Melalui Gerakan Sekolah Mengaji, kami menanamkan prinsip bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter yang utuh. Anak-anak yang memiliki akhlak baik akan menjadi pemimpin masa depan yang mampu membawa perubahan positif,” pungkasnya.
Langkah ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk komite sekolah dan tokoh masyarakat. Mereka menilai GSM akan memperkuat jati diri pelajar Lumajang sekaligus menjadi pondasi untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berdaya saing dan berakhlak. (*)
Reporter: Atiek
Editor: Agus Imam S.
