
Blitar, SMN – Dunia pendidikan masih dibayangi berbagai persoalan serius terkait karakter peserta didik. Di tengah derasnya arus digital, empati siswa kian menipis, perundungan sering terjadi, sementara ketergantungan pada gawai memicu sikap tidak sabar, mudah marah, dan minim kontrol diri. Lebih ironis lagi, sebagian orang tua masih beranggapan bahwa pendidikan karakter sepenuhnya menjadi tugas sekolah.
Menjawab tantangan tersebut, sebuah terobosan lahir melalui program SIPEKA (Sistem Penguatan Karakter dan Akhlak). Program ini hadir bukan sebagai aturan tambahan, tetapi sebagai pendekatan baru yang menempatkan pendidikan akhlak sebagai praktik yang nyata, terukur, dan menyeluruh.
Sebelum SIPEKA diterapkan, penguatan karakter hanya berupa ceramah selingan atau hafalan nilai-nilai etika. Sekolah pun hanya mengandalkan sosialisasi tata tertib yang konvensional. Namun, SIPEKA melakukan lompatan besar dengan menerapkan “pergeseran total dari metode teoretis ke metode aplikatif”.
“Jika dulu penguatan karakter hanya menjadi sisipan ceramah di mata pelajaran, kini menjadi aksi nyata melalui proyek yang relevan dengan kehidupan siswa,” terang pihak sekolah.
Melalui pendekatan ini, akhlak tidak lagi dipahami secara kognitif semata, tetapi dibentuk melalui kebiasaan (habituasi). Siswa diajak mengerjakan langsung nilai-nilai tersebut dalam berbagai aktivitas harian.
Keunggulan utama SIPEKA terletak pada keterlibatan seluruh ekosistem sekolah dan dukungan kuat dari orang tua. Program ini membangun budaya sekolah yang kohesif, dimulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga petugas kantin. Semua menerapkan nilai yang sama, seperti budaya 5S: Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun.
Pendekatan holistik ini menjadikan SIPEKA lebih dari sekadar program, namun sebuah gerakan perubahan budaya. Karakter tidak diajarkan lewat kata-kata, tetapi diperlihatkan melalui keteladanan.
Implementasi SIPEKA memberikan banyak manfaat yang dirasakan dalam berbagai lini:
Bagi Siswa: Mereka terbiasa berbuat kebaikan, memiliki empati yang lebih kuat, menjauhi perundungan, dan menjalankan aktivitas spiritual—seperti mengaji—dengan kesadaran, bukan paksaan.
Bagi Orang Tua: Beban pengasuhan berkurang, karena anak menjadi lebih santun, patuh, dan menghormati orang tua (birrul walidain).
Bagi Lingkungan: Kehadiran siswa yang berakhlak memberikan dampak positif bagi warga sekitar, meningkatkan standar perilaku sosial dalam komunitas.
Salah satu elemen penting SIPEKA adalah integrasinya dengan kegiatan mengaji. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami akhlak secara sosial, tetapi juga memperkuat adab dan keyakinan agama. Nilai spiritual menjadi pondasi utama agar karakter yang ditumbuhkan tidak sekadar adab luar, tetapi juga kesadaran dari dalam diri.
Program SIPEKA menargetkan lahirnya Generasi Emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berjiwa Pancasila, dan berakhlak mulia. Dengan pendekatan yang lebih menyentuh aspek praktik, SIPEKA menjadi solusi konkret bagi tantangan pendidikan karakter masa kini. (*)
Reporter: Imam.
Editor: Agus Imam S.
