
Lumajang, SMN – Kabupaten Lumajang mengangkat Tosan Aji Nusantara sebagai simpul identitas daerah sekaligus sarana edukasi budaya untuk memperkuat pemahaman sejarah dan jati diri masyarakat. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya leluhur yang memiliki nilai historis dan filosofis tinggi.
Bertempat di Pendopo Arya Wiraraja, beberapa hari lalu, pameran ini menegaskan bahwa pusaka bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pengetahuan hidup yang membentuk jati diri dan ketahanan budaya bangsa.
Pameran yang dibuka langsung oleh Bupati Lumajang Indah Amperawati bersama Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma tersebut berlangsung selama tiga hari, 9–11 Januari 2026.
Peserta pameran datang dari berbagai daerah di Nusantara, membawa ragam Tosan Aji yang merepresentasikan kekayaan tradisi, filosofi, dan pandangan hidup leluhur bangsa Indonesia.
Dalam sambutannya, Bupati Lumajang yang akrab disapa Bunda Indah menegaskan bahwa pelestarian budaya harus dimaknai sebagai bagian dari pembangunan manusia dan peradaban, bukan sekadar agenda seremonial. Menurutnya, pusaka Nusantara adalah simpul nilai yang mengajarkan etika, spiritualitas, kepemimpinan, dan kebijaksanaan sosial.
“Pameran ini bukan hanya tentang memamerkan benda pusaka, tetapi tentang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang membentuk karakter bangsa. Di dalam pusaka terdapat sejarah, filosofi, dan kebijaksanaan leluhur yang relevan hingga hari ini,” ujarnya.
Bunda Indah menekankan bahwa pameran Tosan Aji Nusantara memiliki fungsi edukatif yang kuat, terutama bagi generasi muda. Melalui pemahaman yang benar, pusaka tidak lagi dipandang sebagai benda mistik atau sekadar koleksi antik, melainkan sebagai medium pembelajaran nilai dan identitas kebangsaan.
“Ketika masyarakat memahami makna pusaka, maka yang dirawat bukan hanya bendanya, tetapi nilai dan jati diri bangsa. Inilah esensi pelestarian budaya yang sesungguhnya,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan kebanggaan atas ditampilkannya pusaka karya Empu Sanibin, empu asal Lumajang. Kehadiran karya empu lokal tersebut menjadi bukti bahwa Lumajang memiliki warisan budaya adiluhung yang lahir dari kearifan lokal dan layak mendapat pengakuan lebih luas.
Sementara itu, Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma menegaskan bahwa penguatan budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Menurutnya, kegiatan budaya seperti pameran tosan aji memiliki dampak strategis dalam memperkuat pariwisata berbasis budaya dan menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat.
“Budaya adalah identitas sekaligus potensi. Jika dikelola secara berkelanjutan, kegiatan budaya mampu menciptakan nilai tambah ekonomi tanpa kehilangan ruh dan nilai luhurnya,” ungkapnya.
Dari perspektif nasional, Staf Khusus Kementerian Kebudayaan RI Empu Teguh Basuki Yuwono menyampaikan bahwa kebudayaan harus dipahami sebagai ekosistem yang utuh. Ia menekankan bahwa negara hadir untuk memastikan kebudayaan tidak tergerus zaman, tetapi justru menjadi kekuatan strategis bangsa.
“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, baik warisan budaya benda maupun tak benda. Kebudayaan adalah aset bersama yang memiliki dampak besar bagi ekonomi budaya, pariwisata, dan penguatan identitas nasional,” jelasnya.
Selain pelestarian budaya, penguatan Tosan Aji juga diarahkan untuk mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya, sekaligus menegaskan komitmen Lumajang dalam menjaga identitas daerah yang berakar pada tradisi Nusantara. (*)
Reporter: Atiek
Editor: Agus Imam S.
