
Brebes, SMN – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, turun langsung ke lokasi bencana tanah bergerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jumat (27/3/2026).
Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah mempercepat penanganan di tengah kondisi alam yang kian rawan.
Di lokasi pengungsian Pondok Al Munawir Sirampog, Taj Yasin menyapa warga satu per satu, memastikan kondisi mereka sekaligus menyerahkan bantuan.
Bantuan yang digelontorkan meliputi 150 paket sembako dari Baznas Provinsi Jawa Tengah, uang tunai Rp10 juta dari PMI Provinsi Jawa Tengah, serta bantuan lainnya senilai Rp12.706.000.
Dalam sambutannya, ia menunjukkan pendekatan yang tak sekadar administratif. Di hadapan para kiai, tokoh masyarakat, dan pengasuh pesantren, Taj Yasin menyampaikan empati sekaligus memanfaatkan momentum Syawal untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan di tengah musibah.
Namun, inti persoalan ada pada penanganan teknis yang tidak sederhana. Pemerintah kini berpacu pada dua agenda besar: pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap).
Tantangannya, lokasi terdampak berada di lereng Gunung Slamet dengan karakter tanah lempung yang labil dan mudah bergerak saat kadar air meningkat.
“Kita tidak bisa sembarangan menebang pohon. Itu justru bisa memperparah pergerakan tanah,” tegas Taj Yasin.
Karena itu, strategi yang dipilih terbilang tidak biasa. Huntara akan dibangun di sela-sela pepohonan, menjaga vegetasi tetap utuh demi mempertahankan kestabilan tanah. Pendekatan ini menjadi kompromi antara kebutuhan cepat akan tempat tinggal dan keselamatan jangka panjang warga.
Selain relokasi, pemerintah juga mulai menata aliran sungai dari hulu ke hilir untuk menekan potensi banjir yang memperburuk kondisi tanah di wilayah Sirampog dan sekitarnya. Penanganan bencana, menurutnya, harus dilakukan secara menyeluruh, tidak parsial.
Meski akses menuju lokasi cukup sulit, Taj Yasin menegaskan pemerintah akan terus hadir. Ia juga memberikan apresiasi kepada TNI, Polri, dan relawan yang telah bekerja tanpa henti membantu para korban.
Sementara itu, Wakil Bupati Brebes, Wurja, menyampaikan bahwa kehadiran pemerintah provinsi membawa dampak besar, tidak hanya dari sisi bantuan, tetapi juga dukungan moral bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. “Koordinasi terus kami lakukan untuk percepatan relokasi dan pembangunan huntara,” ujarnya.
Data terbaru menunjukkan skala bencana yang tidak kecil. Sebanyak 523 jiwa terdampak, dengan 413 jiwa atau 148 kepala keluarga di Dukuh Bojongsari masih bertahan di pengungsian. Mereka tersebar di rumah kerabat, sekolah, hingga pondok pesantren.
Sedikitnya 122 rumah rusak berat, ditambah satu masjid, dua mushola, serta bangunan TPQ dan PAUD yang ikut terdampak. Infrastruktur jalan desa pun mengalami kerusakan serius, memperumit distribusi bantuan.
Bencana ini dipicu curah hujan tinggi sejak akhir Januari hingga Februari 2026 yang membuat tanah di lereng perbukitan kehilangan stabilitas. Pemerintah daerah kini menetapkan lokasi tersebut tidak lagi layak huni dan tengah menyiapkan relokasi permanen.
Di tengah keterbatasan, satu pesan yang menguat dari kunjungan ini: penanganan bencana bukan hanya soal memindahkan warga, tetapi menjaga keseimbangan alam agar tragedi serupa tak terulang.(*)
Reporter: Santi
Editor: Agus Imam S.
